Minggu, 03 Januari 2010

Phobia 2 (Ha Rang) - 5 Stories. 5 Different Terors.

Phobia 2 merupakan lanjutan dari film horror Thailand 4Bia yang laris manis tahun 2007 silam. Dirilis tanggal 9 September 2009 (09-09-09), film ini membukukan diri sebagai film terlaris di Thailand dengan mengumpulkan 64,4 juta Bath hanya dalam waktu 5 hari.

Sama seperti seri sebelumnya, Phobia 2 merupakan kumpulan film-film pendek yg tidak saling berhubungan. Bedanya, kalau 4Bia hanya terdiri dari 4 cerita pendek, maka Phobia 2 terdiri dari 5 cerita yang disutradarai oleh 5 sutradara yang berbeda. Kelima cerita itu adalah :

NOVICE (disutradarai : Paween Prijitpanya)
Pey - remaja berusia 14 tahun - melakukan kejahatan dengan melempari kaca mobil hingga pengendaranya terluka lalu mencuri uang milik pemilik mobil. Dalam satu tindakan kriminalnya, Pey melakukan kesalahan fatal. Untuk menebus kesalahan, ibunya membawa Pey ke klenteng untuk bersembunyi dari kejaran polisi, sekaligus menyucikan dosa-dosanya. Sayang, tindakan ini tidak lantas membuat Pey lolos dari hukum karma.

WARD (sutradara : Visute Poolvoralaks)
Arthit - seorang remaja - mengalami kecelakaan sehingga kedua kakinya patah. Setelah diobati, dia harus menjalani proses rawat-inap di sebuah kamar pasien. Di dalam kamar, terdapat seorang pasien yang telah koma selama 2 bulan dan tinggal menunggu ajal. Dan selama di dalam kamar itu, Arthit harus berjuang untuk tetap hidup hingga esok menjelang. Berhasilkah dia?

BACKPACKERS (Sutradara : Songyos Sugmakanan)
Dua orang turis Jepang melakukan perjalanan "backpacker" dari Pulau Samui ke Bangkok. Mereka menumpang sebuah truk. Ternyata truk itu berisi puluhan mayat. Siapa mereka? Sebelum pertanyaan itu terjawab, beberapa dari mereka tiba-tiba hidup kembali.

SALVAGE (sutradara : Parkpoom Wongpoom)
Nuch adalah wanita karier yang bekerja sebagai penjual mobil bekas yang merekondisi mobil2 bekas tabrakan ke bentuk yang baru. Satu malam, saat akan tutup, tiba2 dia mendapati anaknya lenyap dari pantauannya. Dari kamera CCTV, Nuch menemukan kalau anaknya lenyap di tengah2 mobil. Tapi saat dicari, tidak ditemukan. Di manakah dia?

IN THE END (Sutradara : Banjong Pisanthanakun)
Dalam sebuah shooting film horor, salah seorang aktris yg mendukung film itu (yg berperan sebagai dedemitnya) sakit. Namun dia memaksakan diri untuk terus bermain dalam film, menuntaskan pengambilan gambar terakhir film. Tidak tahunya, sang aktris kolaps. Saat dibawa ke rumah sakit, sang aktris dikatakan koma dan meninggal. Ketika berita itu beredar di lokasi shooting, tiba2 sang aktris telah muncul di lokasi shooting dan berkeras untuk melanjutkan tugasnya.

Terus terang, dibandingkan dengan 4Bia, film ini sebenarnya kurang terlalu "menggigit". Kalau cerita pendek dalam 4Bia semuanya penuh twist, maka film Phobia 2 justru tidak terlalu. Bahkan terkesan sangat sederhana dan telah dapat tertebak ceritanya jauh sebelum endingnya ditayangkan. Dari 5 cerita di Phobia 2, yang menarik perhatian dan berkesan buat saya adalah Salvage dan In The End yang memang memiliki bobot cerita seperti 4 cerita dalam 4Bia. Sedangkan 3 cerita lainnya boleh dibilang "standar" sekali. Tidak seram. Tidak pula mengejutkan. Biasa-biasa saja. Bahkan cerita Backpackers terasa seperti "dibuat-buat" dan dipaksakan.

Sebagai sebuah hiburan, Phobia 2 bisa dikategorikan sebagai film yang cukup menghibur. Sinematografinya bagus, walau editingnya di beberapa bagian terasa kasar (yg paling terasa adalah di episode Novice, saat adegan jendela yang tertutup sendiri). Bagian menarik dari film ini adalah minim jerit-jeritan layaknya film horor standar (baguslah... soalnya saya paling risih menonton film horor yg banyak jerit-jeritan gak puguh. Berisik....!!!), namun penuh adegan menegangkan dengan musik latar yang sudah cukup untuk membuat penonton terpaku di kursi. Tapi jika berharap untuk menonton sebuah film yang benar-benar berkualitas dan memorabel, rasanya tidak akan Anda temukan dalam film ini. Saya bahkan lebih merekomendasikan Anda menonton 4Bia, jika ingin film horor berkualitas.

Overall, film ini merupakan tontonan yang patut Anda ikuti. Ya... itung2 buat media uji nyali (walau filmnya gak seram2 amat. Beneran.....).

Minggu, 29 November 2009

Murderer (2009) - The Scariest Thriller of Aaron Kwok

Dari semua film yang pernah diperani Aaron Kwok, film ini merupakan film pertama yg - menurut saya - paling mengerikan yg pernah dibintanginya. Brutal. Penuh darah. Dan sangat menakutkan.

Film ini diawali dengan adegan yang cukup mengejutkan. Di Apartemen Peninsula-Hongkong, seorang polisi bernama Tang tiba-tiba terhempas jatuh dengan tubuh penuh darah. Saat dia akan berdiri, tiba-tiba... krak... kakinya patah dan dia terjerembab jatuh ke lantai. Sementara di lantai 7, terbaring Detektif Ling (Aaron Kwok), tidak sadarkan diri.

Saat keduanya dibawa ke rumah sakit, Detektif Tang shock dan koma, sedangkan Detektif Ling amnesia. Dia tidak ingat kejadian beberapa saat sebelumnya. Dia kemudian diberi tahu bahwa Detektif Tang adalah korban ketiga dari pembunuh gila yang hobi mengebor tubuh korbannya. Dia masih bernasib mujur karena masih hidup. Dua korban sebelumnya tewas dalam kondisi tubuh bolong dan kehabisan darah.

Demi membalaskan dendam dan menuntaskan kasus, Detektif Tang bertekad utk menangkap sang pelaku. Namun, semakin dalam dia menyidiki kasus, semakin banyak fakta yang mengarah padanya. Benarkah Detektif Tang pelakunya?

Film ini memiliki kemiripan tema dengan film Orphan yg dibuat di Hollywood. Walau demikian, Murderer jauh lebih unggul dari segi sinematografi yg berdarah-darah dengan ending twist yang benar-benar mengejutkan. Ceritanya pun mengalir dengan sangat cepat, dan sangat lugas. Akting Aaron Kwok pun benar2 optimal, krn mampu menciptakan aura kengerian yg sangat pekat, bahkan sebelum penonton menonton filmnya sekalipun.

Film berdurasi 90 menit yang disutradarai oleh Roy Chow ini merupakan film thriller-psikologi yang cukup mengerikan. Selain adegannya yg didominasi darah dan kebrutalan, dedikasi dan pendalaman karakter yg dilakukan Aaron Kwok patut diacungi jempol. Selama 1 bulan shooting, Aaron Kwok tidak pernah tidur. Sakin kuatnya, dia digelari "The Iron Man Kwok" oleh para kru film. Namun dampak dari kelelahan yg dialaminya, Aaron Kwok menjadi sangat emosional, tertutup, dan sering duduk menyendiri sambil memandangi orang dengan pandangan yg sangat menyeramkan. Kemampuannya menjiwai peran, berhasil membuat para kru berpikir kalo Aaron Kwok mengalami gangguan jiwa saat memerani film ini.

Tatapan seram Aaron Kwok diabadikan fotografer Wing Shya dan dijadikan sebagai poster untuk film Murderer ini. Hasilnya? Sungguh luar biasa...!!! Setiap orang yg memandangi poster itu merasakan kengerian yang menakutkan. Begitu mengerikannya poster itu, sampai pihak MTR Hongkong melarang pemasangan poster itu di semua stasiun kereta bawah tanah Hong Kong.

Film yg dirilis di Hong Kong 9 July 2009 silam ini sempat menduduki tangga teratas Box Office di beberapa negara Asia, termasuk Singapura, Hongkong, China, dan Jepang. Ini adalah film thriller yang sangat menegangkan dan sangat menarik utk disimak. Jika Anda masuk kategori "penakut", saya sarankan : Jangan sekali pun menatap poster film ini !!! Bisa bikin Anda bermimpi buruk. Beneran...!!!!

Senin, 09 November 2009

Grace (2009)

Tahun ini, ada dua film horror-thriller yang harus masuk dalam catatan "wajib tonton" kita. Yang pertama adalah Orphan dan yang kedua adalah film ini. Mengapa?

Orphan adalah sebuah film thriller dengan ending-twist yang mengejutkan. Tema yang diusung pun cukup kontroversial dan mengejutkan banyak orang.

Sedangkan film Grace, juga sama kontroversialnya. Tema yang diangkatnya pun bikin merinding siapapun yang sudah menontonnya. Jika ada Penghargaan untuk Kategori Film Horror / Thriller terbaik tahun ini, saya yakin salah satu dari kedua film itu bisa memperolehnya.

Mari kita bicara soal film Grace. Film yang disutradarai Paul Solet ini awalnya adalah sebuah film pendek yang dibintangi oleh Liza Weil dan Brian Austin Green (naskah dan penyutradaraan dikerjakan oleh Paul Solet), dan beredar secara terbatas di ajang festival film horror Fangoria Weekend of Horrors, Juni 2006 silam. Melihat animo penonton yang besar dalam film itu, maka berbekal modal yang diperoleh dari festival itu, Paul Solet mengembangkan cerita film ini menjadi film panjang berdurasi 85 menit.

Ceritanya memang gak lazim : Sepasang suami-istri Michael Matheson (diperani Stephen Park) dan istrinya yang hamil tua, Madeline (Jordan Ladd) mengalami kecelakaan lalu-lintas. Michael meninggal dunia, dan Madeline selamat. Dalam pemeriksaan, dokter menemukan kalau bayi dalam kandungan Madeline telah meninggal. Karena itu Madeline diminta menggugurkan kandungannya itu. Madeline menolak kenyataan bahwa bayinya telah meninggal.

Dibantu oleh seorang bidan bernama Patricia, Madeline berjuang untuk menghidupkan bayinya lagi. Perjuangannya berhasil. Sang bayi akhirnya hidup dan dapat lahir dengan normal. Namun, bayi yang dinamakan Grace itu ternyata tidak mampu menerima ASI (air susu ibu) yang diberikan ibunya. Di tengah kefrustrasian karena tidak mampu menyuapi anaknya, secara tidak sengaja Grace melukai payudara ibunya. Darah keluar deras, dan Grace dengan lahap meminum darah ibunya.

Menyadari bahwa Grace hanya mau minum darah, Bidan Patricia membeli daging sapi segar dan memeras darah daging itu lalu memasukkannya ke dalam botol. Tapi Grace tidak bisa meminum darah sapi dan hanya mau meminum darah ibunya. Daripada Madeline mati kehabisan darah, tidak ada jalan lain yang bisa dilakukan selain mencari korban untuk diambil darahnya guna memenuhi keinginan si bayi. Maka Madeline dan Bidan Patricia pun mulai mencari korban untuk dihabisi dan darahnya disedot untuk diberikan pada Grace. Bahkan dokter keluarga mereka, Dr. Sloan, dan mertua Madeline pun ikut jadi korban keganasan Madeline dan Bidan Patricia.

Di akhir film, diceritakan Patricia dan Madeline telah berubah penampilan. Mereka melarikan diri , menghindari kejaran polisi karena telah terbukti membunuh orang untuk diambil darahnya dan diberikan pada Grace. Di saat pelarian itu, Grace sudah berusia lebih dari tiga bulan. Giginya telah tumbuh. Dia sekarang tidak hanya butuh darah, tetapi juga makanan padat.

Film ini mendapat sambutan yang hangat dari para penonton, terutama penonton Amerika karena film ini mengusung tema dan konsep feminisme serta perilaku dan interaksi antara bayi dan ibunya. Walau salah satu tujuan pembuatan film ini adalah untuk memberikan penjelasan manfaat dan kegunaan dari Air Susu Ibu pada Bayi, namun film ini mengundang kontroversi dan protes karena disajikan dengan gaya yang sangat "menyeramkan" dan "sedikit" brutal. Tidak sedikit orang yang merasa miris ketakutan saat menontonnya. Bahkan tercatat dua orang penonton pingsan saat menyaksikan pemutaran film ini di Festival Film Sundance beberapa waktu lalu.

Secara garis besar, film ini memiliki kualitas yang sangat baik. Disajikan dengan sederhana, namun cukup mengundang decak kagum dan takut.

Anda punya nyali untuk menonton film horror-thriller yang super seram? Cobain film ini.....

Jumat, 30 Oktober 2009

Turning Point (Film)

Sukses serial televisi Hong Kong, E. U. (Emergency Unit) tahun 2008 silam dan terpilihnya karakter Laughing Gor (diperani oleh Michael Tse) sebagai karakter icon terpopuler TVB, menjadi alasan pembuatan film ini.

Disutradarai oleh Herman Yau - sutradara kontroversi yg pernah menelurkan film slasher sadis The Untold Story - film ini mengisahkan tentang masa lalu Laughing Gor sebelum akhirnya terlibat dalam konspirasi rumit di serial Emergency Unit.

Dalam film ini, Michael Tse masih dipercaya untuk membawakan peran Laughing Gor yang fenomenal itu. Selain itu, film ini diperkuat pula dengan sosok karismatik Anthonny Wong, Francis Ng, dan sang legendaris serial TVB Felix Wong.

Film ini mengambil setting 9 tahun sebelum kejadian di serial Emergency Unit. Awal tahun 2000, Laughing (Tse) adalah anggota trial yang bekerja di bawah pimpinan Lai Tin Yat alias Brother One / Yat Ko (Anthonny Wong). Guna memperluas jangkauan jaringannya, sekaligus menghabisi para pesaingnya, Yat Ko mengatur Laughing masuk ke Kesatuan Polisi Hong Kong.

Di luar dugaan, Laughing lulus dari Kesatuan Polisi dengan hasil yang sangat baik. Gayanya yang acuh dan slengek'an, menarik perhatian Kepala Distrik Anti-Triad, Superintendent Sin (Yuen Biao) yang kemudian mengutusnya untuk menjadi "undercover cop" dan menyelinap masuk ke sindikat triad. Jadilah Laughing "double agent" utk polisi dan triad.

Buat penonton yg sudah menonton serial TVB "Emergency Unit" (E.U.), cerita film ini agak sedikit mengecewakan karena film yg tadinya diharapkan menjadi "jembatan" dari "missing link" yg ada di serial tv E.U., justru melenceng dari apa yg sudah digambarkan di serial tersebut. Dalam E.U., Laughing jelas2 digambarkan adalah polisi yang menyaru sebagai anggota triad. Namun di film ini, latar belakang Laughing dipelintir dan dibuat menjadi dobel agent. Hal ini jelas membingungkan penonton. Belum lagi kisah cinta Laughing di E.U. juga berlawanan dengan film.

Salah satu hal yang agak mengganggu adalah akhir film, di mana Laughing mendapat tugas "terakhir" untuk menghancurkan triad pimpinan Hao Ko. Padahal dalam serial E.U., Hao Ko baru dibebaskan dari penjara tahun 2009, dan kelompok triadnya baru dibentuk setelah dia keluar dari penjara. Bagaimana mungkin Laughing yg di film bersetting tahun 2000 sudah tahu bakal ada triad pimpinan Hao Ko yang - menurut serial televisi - terbentuk 2009 nanti?

Anyway, sebagai hiburan, film ini cukup menarik untuk ditonton, terutama buat penggemar karakter Laughing Gor. Akting Michael Tse pun tampak jauh lebih matang dan sempurna daripada yang kita liat di serial tv Emergency Unit.

Di Hong Kong, film ini meraup kesuksesan luar biasa saat dirilis Agustus 2009 silam. Mudah-mudahan kesuksesan ini tidak membuat para produser film ini berniat membuat sekuel dari film ini. Menurut saya, cerita masa lalu Laughing Gor sudah cukup dan gak perlu lagi dibuat tambah ngaco. Biarlah karakter Laughing Gor bisa "beristirahat dengan tenang" dan tidak membuat penonton makin pusing dengan masa lalunya yg kontradiksi dengan serial tv E.U.

Minggu, 11 Oktober 2009

Haeundae - Korea's Best Disaster Movie

Haeundae merupakan film pertama dan terbesar yang bertema "disaster". Mengambil setting di Busan, kota kedua terbesar di Korea Selatan setelah Seoul, film yang menghabiskan US$ 13 milyar - dan tercatat sebagai salah satu film termahal yg pernah dibuat Korea Selatan - ini dirilis tanggal 22 Juli 2009 silam di 869 bioskop yg tersebar di seluruh Korea dan langsung menduduki tangga pertama Box-Office di bioskop2 Korea. Tercatat 1,5 juta tiket habis terjual hanya dalam waktu 3 hari.

Disutradarai oleh Yoon Je-Kyun dan diproduksi oleh CJ Entertainment, Polygon Entertainment, & JK Film (tidak ada hubungan dengan Jusuf Kalla ya....), film ini juga digawangi oleh Hans Uhlig, Supervisi CGI yang pernah menangani film The Perfect Storm dan The Day After Tomorrow yang keduanya juga merupakan film bertema bencana alam. Jadi sudah bisa dibayangkan bagaimana dasyatnya film yg satu ini.

Berbeda dengan film-film disaster Hollywood yg mengedepankan special effect, film ini justru mengedepankan drama. Dalam durasi 120 menit, 75 menit pertama merupakan sisi drama dari filmnya. Sedangkan 45 menit berikutnya barulah sisi disaster-nya. Bagi peminat disaster movie, film ini jelas sebuah "kekecewaan" karena Anda akan "dipaksa" menonton sebuah film drama yang mendayu-dayu dan sedikit membosankan dengan durasi yang cukup panjang. Tetapi bagi peminat film drama, film ini adalah "master-piece" yang sangat menarik. Ya... kalo dibandingkan Titanic, jelas kalah jauh. Walau demikian, dari segi dramatisasi, ceritanya sangat bagus dan menyentuh.


Terdapat 4 pasang karakter yg menjadi cerita utama film ini. Pasangan pertama adalah seorang nelayan bernama Man-Sik (diperani Sol Kyung-gu) dan kekasihnya Kang (Ha Ji-Won; para penggemar Ji-Won, siapkan sapu tangan utk mengelap air matamu. Dia bermain sangat apik dan mengharukan sekali di sini...!!!). Diceritakan mereka telah lama berpacaran namun belum juga menikah. Man-Sik sudah sangat ingin menikahi Kang, tapi dia ragu apakah bisa membahagiakan kekasihnya karena dirinya miskin. Sedangkan Kang pun ragu apakah hubungannya dengan Man-Sik dapat diteruskan ke jenjang yg lebih, mengingat hubungan mereka tidak ada perkembangan yg berarti.

Pasangan kedua adalah seorang penjaga pantai yang jatuh cinta pada seorang gadis. Si gadis telah punya kekasih pria kaya-raya. Namun apakah harta dapat membeli sebuah cinta?

Pasangan ketiga adalah seorang ahli geologis (diperani Park Joong-hoon) dan mantan istrinya yg penasihat politik (Uhm Jung-Hwa). Sejak bercerai, hubungan mereka menjadi kurang baik. Bahkan anak semata-wayang mereka pun tidak terurus. Parahnya lagi, si anak tidak tahu kalau ahli geologis itu yg dipanggilnya "Paman" adalah ayah kandungnya sendiri.

Dan pasangan terakhir adalah seorang pria dan ibunya yang sudah tua. Sang ibu sangat ingin melihat anaknya sukses dalam karier dan selalu mendorongnya untuk bisa jadi orang yg lebih baik. Namun sang anak selalu memarahi ibunya dan mengatakan ibunya "cerewet".

Hidup keempat orang itu sontak berubah ketika tsunami menghantam kota.

Walau dibuat dengan dana yang cukup besar, tidak berarti film ini lepas dari cacat. Ada beberapa bagian film ini yang cukup mengganggu jika dicermati. Salah satunya adalah sisipan komedi yg - menurut saya - agak mengganggu dan sangat slapstik. Mungkin maksud sutradara agar bobot film tidak terlalu berat, namun tetap saja adegan2 itu terasa gak pas dimasukkan.

Bagian lain yg cukup menganggu adalah sisi editing. Ada beberapa "kesalahan" kecil yg tidak disadari oleh editor film. Misalnya adegan saat teman2 (3 pasang pria dan wanita) si gadis yg pacarnya orang kaya digambarkan di dalam Sea World. Saat terjadi gempa, mereka terlihat ada di dalam Sea World tersebut. Namun setelah penggantian adegan - dan tampak air laut menyusut - mereka digambarkan berada di pantai, terbengong-bengong melihat air laut yg menyusut. Setelah penggantian adegan balik ke Sea World, mereka tampak menjerit2 dan berlari menyelamatkan diri di dalam. Lho, bagaimana mungkin mereka bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan.

Jika dibandingkan dengan 252 : The Signal Of Life yang juga bertema sama, tapi produksi Jepang, jujur saya katakan film Haeundae kurang terlalu menggigit dari segi drama. Bagian dramanya terlalu berkepanjangan dan tidak fokus. Berbeda dengan 252 yg justru sangat fokus pd cerita.

Walau demikian, film ini masih tetap layak ditonton karena Special Effect-nya yang sangat bagus dan menarik. Selama 45 menit kita akan dihibur dengan tayangan ombak dasyat tsunami yang sangat spektakuler dan mengerikan. So... tunggu saja. Film ini akan segera beredar di Indonesia dalam waktu dekat ini.

Jumat, 25 September 2009

Sorority Row - Sexy Slasher Movie

Tren remake film slasher menjadi tren lagi di tahun ini. Setelah di awal tahun kita dibuat merinding oleh kehadiran My Bloody Valentine (Januari 2009), kemunculan kembali Jason Voorhees di instalment terbaru Friday the 13th (Februari), dan keganasan Michael Myers di H2 : Halloween 2 besutan Rob Zombie (Agustus), kini muncul Sorority Row yang merupakan remake dari The House of Sorority Row (1981).

Sorority Row bercerita tentang 6 orang bersaudari, yaitu Cassidy(diperani oleh Briana Evigan), Ellie (Rumer Willis), Jessica (Leah Pipes), Claire (Jamie Chung), Chugs (Margo Harshman), dan Megan (Audrina Patridge). Satu waktu Megan memergoki kekasihnya, Garrett (Matt O'Leary) berselingkuh. Untuk memberi pelajaran pada kekasihnya,Megan bersama saudarinya membuat rencana sandiwara. Dalam sandiwara itu, Megan pura-pura meninggal setelah memergoki perselingkuhan Garrett.

"Mayat" Megan dibawa ke pabrik baja. Di sana para saudarinya mengajak Garrett utk melihat tubuh kaku Megan. Setengah bercanda, mereka meminta Garrett mencarikan benda yg bisa digunakan untuk memutilasi Megan. Tidak disangka, Garrett benar2 mengambil linggis yg terletak tidak jauh dari tempat itu dan menghujamkannya ke dada Megan, dan Megan benar2 tewas seketika.

Panik karena perbuatannya, Garrett akhirnya menyembunyikan mayat Megan. Bersama para saudari Megan, mereka bersumpah utk tidak menceritakan hal ini pada orang lain.

Namun setahun kemudian, saat acara kelulusan sekolah, mereka menerima kiriman video via ponsel mereka yang memperlihatkan adegan pembunuhan terhadap Megan. Satu persatu dari mereka tewas dengan cara yang mengerikan. Mereka harus segera menemukan siapa pelakunya, sebelum si pelaku menemukan mereka.

Sebenarnya gak ada yg terlalu istimewa dari film ini. Selain plotnya mirip dengan I Know What You Did Last Summer, film ini pun dipenuhi para bintang muda baru yang belum terlalu familiar di telinga kita. Mungkin penonton taunya cuman Briana Evigan yang pernah bermain di film Steps Up 2 : The Streets (2008) dan S. Darko (2009), Rumer Willis (anak dari Bruce Willis - Demi Moore), Audrina Patridge (bintang reality show The Hills. Sayang... dia dibuat tewas di 20 menit pertama film Sorority Row ini...), dan Jamie Chung (host reality-show MTV The Real World). Selebihnya... ??? No idea.

Walau demikian, yang selalu menarik perhatian dari film bergenre slasher adalah kejutan2 yang selalu muncul secara tiba2 di setiap bagian film. Selain itu, para kritikus yang biasanya mencaci-maki film bertema slasher-remaja, justru memuji film ini. Bahkan Briana Evigan meraih penghargaan ShoWest Award untuk kategori "Female Star of Tomorrow" berkat perannya di film Sorority Row ini. Tentu prestasi ini membuktikan kalau film Sorority Row bukan sekedar film kacangan yg hanya menjual "babes & blood".

Film ini sudah dirilis 11 September 2009 lalu di Amrik. Asia? Gak akan lama deh.... ^_^

Kamis, 24 September 2009

Pempek - Heavenly Food from Indonesia

One of activity that you should put on your traveling itinerary as "a must" when you visit Indonesia is doing culinary adventure. Yep, besides having unique and exotic culture (such as Pendet Dance from Bali, Barong Dance from East Java, Angklung music instrument from West Java, Batik Cloth & Wayang / Paper Puppet from Central Java, Songket cloth from South Sumatera, etc), Indonesia also well-known as the heaven of exotic and delicious food.

Each place has its own special food you could try. But one that you should aware is Pempek. Why? Because it's extremely tasty that won't let you stop to keep eating it. Hmm.... how come?

Pempek is a food made from Spanish-mackarel fish and sogu palm. There are a lot of types of pempek : curly type (called Pempek keriting), long type (Lenjer), skinfish (Pempek Kulit), or round type (Bulat). All of them are plain type. But if you want something with fill-in type, you can try Sub-Marine (Kapal Selam). Wow.... whatta food...!!! Don't get wrong. Even it called Sub-Marine, but it does not mean it made from solid-steel. It is same as other pempek but have egg fill in it. But why it called Sub-Marine. Frankly I have no idea. But I believe it because the appearance of this type which similar as a submarine (well... sort of. Just try to imagine a big-extreme fat-submarine.... see...??).

There are several ways to serve and eat it. Usually it boiled, then eaten while hot directly. But if don't feel comfortable to eat it (maybe still afraid there has putrid odor from the fish), you can fried it before eat it. If you want add exotic sensation, try to dip it with Cuko - the mixture of garlic, sour water, and chilli. It makes Pempek tastes hot, sour, sweet, and delicious. If you want to taste it more exotic, try to add some small slices of cucumber, noodles, and some scrape of dried shrimps. Believe me.... it tastes marvelous...!!!

Recently, there are more variations of fill-in Pempek which make the taste more unique. Some people change the egg into sausage, meat ball, shrimp, crab, or even cheese. It tastes much more like the combination of Europe and our traditional aroma. Some people from abroad feel it tastes more close to their tongue and can enjoy it better.

So one day, when you plan to visit Indonesia, look for Pempek. It sells a lot in every big city in Indonesia. But if you look for the original, try to visit Palembang, one of the well-known metropolitan city which located in South Sumatera (in Sumatera Island). Pempek is one of the most popular traditional food from that place. There are a lot of versions of Pempek which can meet to your taste.

Try this heavenly food from Indonesia. You never step to Indonesia until you get one of them....